Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen: Bulan yang Merasa Paling Hebat



Bulan yang Merasa Paling Hebat


Malam hari yang cerah. Bulan bersinar terang di langit. Ia terlihat sangat gembira.


“Teman-Teman, coba lihatlah ke bawah! Banyak manusia mengagumi keindahanku!” seru Bulan dengan angkuh kepada bintang-bintang.


“Sebaiknya, kamu tidak bersikap angkuh seperti itu, Bulan. Boleh jadi manusia mengagumi Matahari. Matahari sangat berjasa bagi para manusia. Setiap hari, semua manusia pasti menanti kemunculan Matahari. Hal ini disebabkan banyak aktivitas manusia memerlukan bantuan Matahari,” kata sebuah bintang.


“Benar! Matahari sungguh hebat. Meskipun begitu, Matahari selalu rendah hati,” sahut bintang yang lain.


Bulan menjadi marah begitu mendengar ucapan para bintang. Sepanjang malam, ia tidak dapat tenang. Ia terus memikirkan cara mengalahkan kehebatan Matahari. Bulan pun mendapat sebuah ide. Agar dapat mengalahkan kehebatan Matahari, ia harus bekerja sepanjang hari. Selain pada malam hari, ia juga harus muncul bersama Matahari pada pagi hingga sore hari.


Malam hampir berlalu. Matahari bersiap-siap menampakkan dirinya. “Selamat pagi, Bulan dan para bintang. Sekarang, sudah waktunya aku bekerja. Kalian dapat beristirahat,” ucap Matahari.


“Aku tidak akan beristirahat,” ujar Bulan. Aku sudah memutuskan untuk bekerja dari pagi sampai malam hari, tanpa berhenti. Aku tidak perlu istirahat. Dengan begitu, kita dapat mengetahui siapa yang lebih hebat dan dikagumi para manusia, Bulan atau Matahari.”


Keputusan Bulan untuk bekerja sepanjang hari ternyata berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Ia merasa sangat kelelahan dan mengantuk, padahal hari masih pagi. Ia pun menyadari bahwa tidak ada gunanya ia bersikap angkuh sebab setiap hal memiliki tugas dan kehebatannya masing-masing. Akhirnya, Bulan meninggalkan Matahari yang sedang bekerja menyinari bumi.

ESPS Bahasan Indonesia kelas 6 SD Hal: 128

Posting Komentar untuk "Cerpen: Bulan yang Merasa Paling Hebat"